Batik Semarang

Batik asal kota Semarang mulai pernah berjaya pada awal abad ke-20, tepatnya saat pabrik ‘Batikkerij Tan Kong Tin’ beroperasi sampai tahun ’70-an.

Tan Kong Tin adalah anak Tan Siauw Liem, yakni seorang penguasa tanah yang memiliki gelar mayor di Semarang.

Lalu ia menikah dengan salah satu keturunan trah Hamengku Buwono III, yakni Raden Ayu Dinartiningsih.

Raden Ayu dikenal pandai membatik karena basically ia berlatar belakang keluarga keraton.

Atas kegigihannya, batik dari keluarga Tan akhirnya tercampur dengan motif khas Jogja yang bermotif pesisir.

Setelah itu brand ‘Batikkerij Tan Kong Tin’ diteruskan oleh generasi kedua mereka, Raden Nganten Sri Murdijanti hingga tahun ’70-an.

Namun  sebelum itu, tahun 1919-1925, angka para pengusaha batik Kota di Semarang sudah melampaui 107 orang dengan tingkat pengrajin kurang lebih mencapai 800 orang.

Kemudian, batik Semarang ini pun terus dikembangkan dengan mengambil tema alam serta kehidupan masyarakat sekitar.

Nah, singkatnya begitulah awal mula kisah Batik dari Semarang dan penjelasannya.

Batik Semarang Paling Populer

1. Motif Batik Lawang Sewu

informasi batik semarang
sumber foto: Bukalapak
batik benang raja semarang instagram
sumber foto: Bukalapak
grosir batik semarang jawa tengah
sumber foto: skot.holiparent.com

Batik Lawang Sewu adalah salah satu contoh motif yang terinspirasi dari ikon atau landmark kota Semarang, Jawa Tengah.

Untuk mengabadikannya, para seniman membuat batik semarang berornamen gedung Lawang Sewu, yakni sebuah bangunan tua bekas perusahaan kereta api peninggalan pemerintah Belanda di zaman dulu.

Berdasarkan sejarah, Lawang Sewu dibangun pada masa kolonialisme Belanda pada tahun 1904 dan awalnya hendak digunakan sebagai kantor Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS).

Dengan gayanya yang artistik, modern, dan vintage (sekarang), Gedung berisikan tiga lantai ini diketahui merupakan karya arsitek Belanda termahsyur bernama Prof Jacob F Klinkhamer dan B.J Queendag.

Masyarakat atau penduduk lokal Semarang menyebutnya ‘Lawang Sewu’ karena ada banyak sekali jumlah pintu pada bangunan ini yang mana saking sulitnya dihitung, orang Jawa lebih memilih menggunakan frasa paling tepat yakni pintu seribu.

‘Pintu seribu’ atau dalam Bahasa Jawa berarti ‘Lawang Sewu’.

Karena iklim dan cuaca di wilayah Semarang kota bersifat tropis maka kedua arsitek asal Negeri kincir angin itu membangunnya secara detail untuk membuat bagian dalamnya nyaman ditempati.

Kini, gedung yang dulunya kosong tak berpenghuni tersebut, sekarang telah berganti wajah menjadi salah satu objek wisata sejarah yang wajib dikunjungi ketika kamu singgah di kota Semarang.

Sekalian nih, beli batik Semarang motif Lawang Sewu yang berwarna lembut atau kombinasi seperti cokelat, merah, hijau, dan lainnya.

2. Motif Warak Ngendog

kampung batik gedong semarang
sumber foto: dwibatiksemarang.blosgpot.com
gambar batik semarang
sumber foto: chilomita.com

Motif Warak Ngendog ini pertama kali dibuat oleh seniman dan pengrajin batik di Sanggar Batik Semarang 16 dan termasuk ke dalam thematic moment.

Sebutan warak ngendog sebenarnya diambil dari nama mainan yang digunakan ketika berlangsungnya tradisi dug-deran atau sebuah festival rakyat yang menandai bahwa kita telah memasuki Bulan Suci Ramadan.

Pada kebisaan tersebut, warga menggunakan gambaran hewan imajiner berupa warak, yang dalam bahasa Jawa, ‘warak’ berarti badak, sementara ‘ngendog’ artinya ‘bertelur’, sehingga secara harfiah dapat dimaknai sebagai perjuangan seseorang yang bisa menjaga pahalanya saat bulan puasa hingga akhir, maka ia akan menerima hasil baiknya di hari lebaran.

Motif batik ini punya ciri khas yang berbentuk lurus dan menggambarkan sikap penduduk Semarang yang cenderung terbuka, teguh, lurus, dan apa adanya.

Mungkin kamu bingung dengan perwujudannya mengapa tidak layaknya badak? Karena secara fisik bentuk Warak Ngendog dilambangkan menggunakan hewan lain seperti kuda, kambing, naga barongsai, kerbau, sapi, dan badan anjing.

Sedangkan bagian kepalanya terkadang menyerupai kepala naga Jawa, naga barongsai Cina,kambing, dan lain-lain tergantung si partisipan.

Namun sebagian besar pola kelok pada bulu-bulunya berbentuk mengikuti kulit naga.

Bahkan tak jarang juga ada versi lain seperti lurus, keriting, bersisik, dan berombak.

3. Batik Asem Arang atau Godong Asem

batik mangrove semarang
sumber foto: Bukalapak
batik semarangan kota semarang jawa tengah
sumber foto: Bukalapak

Motif Asem Arang merupakan salah satu dari sekian banyaknya batik dari kota Semarang yang terinspirasi dari ikon wilayahnya sendiri.

Sebutan ‘Asem diambil dari nama pohon asem, sementara ‘arang’ diambil dari kosa kata bahasa Jawa yang artinya ‘jarang’, sehingga nama batik tersebut merujuk pada pohon asem yang tumbuh berjauhan/berselang-seling (ora rengket) di kota berjuluk ‘The Port of Java’ ini.

Hal ini tidak lepas dari riwayat kota Semarang pada abad ke-15 M, yang pada waktu itu seorang utusan terkenal asal Kerajaan Demak bernama Pangeran Made Pandan serta putranya Raden Pandanarang memulai misi mereka untuk menyebarkan Islam secara damai dari perbukitan Pragota.

Nah, di sekitar wilayah perbukitan yang mereka tinggali tersebut, Raden Pandanarang mendapati bahwa di sekitar lahannya tumbuh pohon asam yang saling berjarak atau berjauhan.

Sampai pada akhirnya, fenomena alam tersebut dipatenkan sebagai nama kota ini yang beralih menjadi ‘Semarang’.

3. Batik Tulis Semarang Blekok Srondol

toko batik lesmono semarang
sumber foto: Bukalapak
batik lotus semarang
sumber foto: Bukalapak
batik kabupaten semarang
sumber foto: Bukalapak

Nama motif ‘Blekok Srondol’ diambil dari keberadaan burung blekok yang kerap hinggap di wilayah Srondol, kota Semarang, Jawa Tengah.

‘Blekok’ dalam Bahasa Jawa berarti ‘bangau’ dan ‘Srondol’ merupakan sebuah kawasan yang berada di kecamatan Banyumanik, Semarang.

Selain menyebutnya dengan ‘blekok’, warga juga memanggilnya dengan ‘blekok Jawa’ atau ‘Blekok sawah’.

Usut punya usut, kawanan burung berwarna putih kekuning-kuningan ini kala pagi atau sore biasanya bertengger secara bergerombol atau berpasangan di antara cabang pohon asem.

Nah, Pohon tersebut berada tepat di depan markas Benteng Raider, Srondol Kulon, Banyumanik, Semarang.

Tak heran, dalam berbagai motif blekok srondol, dasaran utama bidang kain batiknya juga dipenuhi oleh corak godong asem.

Secara filosofis, motif batik ini ingin menyampaikan pesan pada pemakainya bahwa ada keseimbangan lingkungan yang mesti dijaga, baik itu keseimbangan terhadap alam maupun tingkat sosial.

Dilihat dari beragam jenis motif Blekok Srondol, para pengrajin batik lebih kerap menggunakan warna-warna gelap atau kainnya didominasi oleh kombinasi yang tegas.

Harganya tergolong murah, mulai dari Rp160.000,00 hingga Rp550.000,00 bahkan jutaan.

Tergantung seberapa banyak kamu membelinya.

4. Motif Tugu Muda

batik kultur - semarang gallery by dea valencia
sumber foto: Bukalapak
kampung batik semarang harga
sumber foto: semarangbatik.blogspot.com

Dibuatnya Motif Batik Tugu Muda ini terinspirasi oleh landmark kota Semarang, yakni monumen Tugu Muda.

Tugu berbentuk lilin ini dibuat oleh dua arsitek yakni Salim dan Hendro untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan yang telah gugur dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Dalam corak batiknya, ornamen tugu muda biasanya dikelilingi ikon lain seperti warak ngendog, blekok srondol, dan sulur atau tanaman hijau yang menjalar.

Sedangkan untuk pewarnannya berbeda dengan batik sogan, karena batik ciri Semarangan lebih banyak didominasi warna coklat kuning hijau dan hitam dengan motif.

Nilai filosofi yang bisa diilhami dari motif batik ini adalah sebagai manusia kita harus berjuang sekuat tenaga dan pantang menyerah.

5. Batik Semarang Lainnya yang Populer

batik dari semarang
sumber foto: Bukalapak
jadwal batik semarang halim
sumber foto: Tokopedia
batik kultur semarang
sumber foto: semarangkreatif.semarangkota.go.id
batik semarang khas
sumber foto: id.carousell
toko batik lipoor semarang
sumber foto: Bukalapak
kain batik semarang murah
sumber foto: endangbatiksmg.blogspot.com

Lokasi atau Tempat Beli Batik Semarang

1. Balai Batik Semarang

beli batik semarangan
sumber: semarangkreatifgaleri.com

Balai batik ini bisa kamu akses dengan memasuki area kampung batik di Jalan Batik No. 698A, kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah; kode pos: 50227.

Di sini kamu bisa belajar membatik dan mengenal beragam motif batik khas semarang.

2. Batik Kultur

batik di semarang
sumber foto: readymap.asia

Ingin memakai baju modern dengan aksen batik dari Semarang? Kunjungi saja Butik Batik Kultur yang berada di Jalan Gombel Lama Nomor 32, Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah; kode pos 50262.

Di sini kamu bisa mendapati berbagai desain pakaian yang fashionable dan modis.

3. Batik Lesmono

fungsi batik semarang
sumber foto: 2pos.asia

Di Batik Lesmono, kamu bisa membeli beragam batik berwarna cerah dengan aneka model.

Mulai dari kebaya, jarik, blouse, dan masih banyak lagi.

Alamatnya ada di Jl. Tlogosari Raya II No.38, Kel. Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah; kode pos: 50196

4. Batik Bakung Rdaja

batik wewe gombel semarang
sumber foto: batik-benang-raja-clothing-store.business.site

Jika kamu berkunjung ke Semarang, bisa nih mampir ke Batik Benang Raja yang beralamat di Jalan Mayor Jendral. D.I. Panjaitan No.34, Brumbungan, Kecamatan Semarang Tengah, Semarang, Provinsi Jawa Tengah’ kode pos 50135.

Sementara untuk wilayah Surabaya kamu bisa langsung ke jalan Jalan Raya Ngagel Jaya No.55, Pucang Sewu, Kecamatan Gubeng, Surabaya, Jawa Timur; kode pos 60283.

Nah, untuk yang di Jakarta bisa buka official online storenya yang ada di market place Indonesia seperti shopee.

5. Batik Pasha

batik exclusive semarang
sumber foto: semarangbatikpasha.blogspot.com

Di Batik Pasha, kamu juga bisa menemukan berbagai jenis kebaya atau blouse batik modern dan batik khas Semarang yang terbaru.

Lokasinya berada di Jl. Dokter Cipto No.31-33, Kel. Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Semarang, Provinsi Jawa Tengah; kode pos 50124.

6. Batik Benang Ratu Semarang

batik benang ratu gajah semarang
sumber foto: m.ayosemarag.com

Batik Benang Ratu menyediakan motif batik lawasan dan klasik, jadi buat kamu yang memang kurang minat pada batik modern atau motif baru bisa langsung ke Jalan Indraprasta No.105, Pindrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah, Semarang, Provinsi Jawa Tengah; kode pos 50131.

Tutup setiap pukul 21.00 WIB.

7. Toko Kain Jangkrik Kranggan

batik jayakarta semarang jl dr cipto
sumber foto: parapemancing.blogspot.com

Khusus kain batik dengan berbagai jenis bahan atau material, maka tak salah berkunjung ke Toko Kain Jarik Kranggan yang terletak di Jalan K.H. Wahid Hasyim No.104, Kel. Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Semarang, Provinsi Jawa Tengah; kode pos 50139.

Tempatnya nyaman dan kamu bisa melihat aneka batik klasik sampai modern.

8. Batik Djakarta Semarang

batik identix semarang
sumber foto: semarangdotsemarang.blogspot.com

Toko Batik Djakarta Semarang tutup lebih awal yakni pukul 17.00 WIB atau 05.00 sore.

Lebih jelasnya lagi, kamu bisa mendatanginya di Jalan Pedamaran No.24, Kel. Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Kodepos: 50188.

9. Paradise Batik

batik krajan semarang
sumber foto: meciko.blogspot.com

Selain batik 16 inn, ada pula Paradise Batik yang berdiri sejak tahun 1983 dengan mengedepankan konsep eksklusif.

Tak heran, desainnya kerap dijadikan sebagai salah satu busana dalam pagelaran fashion tertentu.

Alamat lengkapnya dapat diakses di Jalan Sultan Agung No.129, Gajahmungkur, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang, Jawa Tengah, Kodepos: 50232.

10. Kampoeng Djadjoel Semarang

batik jayakarta semarang dr cipto
sumber foto: tripadvisor.co.id

Kampoeng Djadhoel Semarang bukan hanya merupakan destinasi wisata tematik, melainkan juga tempat yang kerap digunakan untuk memamerkan batik-batik khas Semarang.

Jika ada kesempatan kamu langsung saja menuju Kampung Batik Tengah Rejomulyo, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, Semarang, Jawa Tengah, Kodepos: 50227.

Bagaiamana ulasan dari kami? Semoga menjawab rasa penasaranmu ya.

Leave a Comment